“Aduuh...banyak
banget kerjaanku” “aduuh...bisa nggak yah? Ini kan susah banget?”
“huwf!
Males, capek, ntar aja deh..”
Nah
loh...ini nih cuap-cuap yang biasanya dilontarkan para pecundang, ops! Termasuk
saya juga pernah menajdi pecundang, hihihi..., maaf yah..kalau saya menyebut
pengeluh sebagai pecundang, soalnya sukanya menyerah dulu sebelum berperang.
Banyak mengeluhnya daripada semangatnya. Yup! Setiap orang mungkin sangat wajar
kalo mengeluh, namanya juga manusia, tapi kalau hal ini menjadi kebiasaan kan
nggak lucu juga, gara-gara alasannya namanya juga manusia, jauh dari
kesempurnaan, hemmm... SALAH BESAR!!
Saya
punya teman, mm...cukup dekat, hehe.. yang aku kenal dari dia orangnya suka
banget mengeluh, capek, males dan banyak alasan-alasan lain yang buat aku jadi
sedikit jengkel, tetapi sebagai teman aku tak pernah lelah untuk
menyemangatinya, karena hanya itu yang bisa dilakukan, right??
Suatu
hari dia diterima kerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Pusat,
padahal tempat tinggalnya itu di jakarta selatan, aku yang belum dua kali ke
jakarta tentu nggak paham seberapa jauh jarak yang harus di tempuh, tapi dia
bilang sih sebenarnya nggak terlalu jauh, hanya saja harus melewati yang
namanya kemacetan sehingga membuat perjalanan yang harusnya cukup 1 jam menjadi
2 jam, heh? Segitu parahkah kemacetan di Jakarta??
Awalnya
dia bekerja aku sudah menduga akan banyak sekali keluhan yang keluar dari
mulutnya, memang benar, di tambah lagi kerjaan yang sangat banyak. Hari demi hari di lalui, sekarang
sudah 4 bulan dia bekerja dan alhamdulillah masih bertahan, dia bilang ternyata
kalau dijalanin jadi terbiasa, dan sebenarnya nggak patut buat mengeluh, masih
banyak orang-orang yang tempat kerjanya lebih jauh, bahkan ada yang tidak
menggunakan kendaraan pribadi. Alhamdulillah..dia sudah menyadari, ini
pembelajaran buatku juga, dia juga pernah bilang begini
“tau
nggak is, kerjaan mas tiap hari numpuk, kerjaannya sih kayak ngerjain skripsi,
ngetik dan pake mikir, sebelumnya mas liyat tumpukan dokumen yang harus
dipelajari, huh, kalau udah lihat itu males aja bawaannya, haduh! Tapi mas coba
duduk dan mulai membuka-buka, selalu kata aduh yang keluar, tapi mau nggak mau
mas harus ngerjain, terus dan terus di kerjakan dan nggak terasa udah sore,
padahal tadi pagi ngeliyat dokumen numpuk ajah udah pusing duluan. ternyata
kalau kita ada niat dan mau melakukannya kerjaan yang tadinya berat selesai
juga dan nggak terasa terasa malah.” Begitu ceritanya di telpon.
Hmm...satu
pelajaran lagi buat kita, niat dan kemauan untuk mengerjakan dan tentunya
kerjakan terus, lawan si malas!
Aku
jadi inget jaman masih kuliah dan mengurusi skripsi, kebayang nggak sih gimana
susahnya, sebenarnya sih merangkai kata-kata atau sekedar copy paste dari buku
gampang aja, tapi kerja sama dengan dosen yang kadang buat para mahasiswa jadi
males dan alhasil menunda-nunda si skripsi itu, alasannya susah ketemu dosen
lah, dosennya sibuk dan macam-macam alasan. Aku juga pernah mengalami hal ini,
7 bulan aku mengurusi skripsi dari proposal hingga jadi sebendel karya
bersejarah itu. Dan yang paling berkesan buatku adalah detik-detik setelah
sidang Skripsi.
Aku
begitu ngototnya ingin ikut yudisium bulan Agustus, pikiran aku kacau balau,
pokoknya aku harus bisa wisuda bulan September 2011 sesuai targetku. Setiap
hari kerjaanku ke kampus menunggu dosen, beruntung kalau bisa ketemu, pernah
juga udah nunggu lama nggak taunya nggak dateng, kecewa sih, tapi namanya
perjuangan di nikmati ajah. Hari itu tanggal 4 agustus 2011, tepat dimana aku
akan mempertarhkan masa 4 tahun kuliah dan kelulusanku di tentukan oleh hari
itu. Sidang skripsi yang kata orang-orang tegang, apalagi kata temen-temen
dosen pengujiku sangat kritis, kebayang banget seperti apa tegangnya, tapi mau
nggak mau dan memang harus mau aku melaluinya, udah acc dan aku mengejar target
juga. Kurang lebih 45 menit berlalu di meja sidang, dan Alhamdulillah, semua berjalan
lancar, sebenarnya nggak juga sih, aku sempat nangis waktu keluar dari ruangan,
temen-temen pada kaget dan bertanya-tanya “kenapa nangis is?”
“refisinya
bnayak banget..” jawabku lemes, di tambah lagi aku di kasih batas waktu 1
minggu. Aku takut nggak bisa ngejar pendaftaran yusdisium yang batas waktunya
juga 1 minggu lagi. Maunya aku udah langsung jilid, hehe...
Pas
aku masuk ke ruangan lagi, pembimbingku ibu Yuliyati M.Kes dab Ibu Marfuatun
M.Si menyarankan untuk segera refisi dan memberi batas waktu 1 minggu, tapi aku
mengusulkan
“ibu,
bagaimana kalau saya di kasih waktu 1 hari, boleh tidak?”
Semua
dosen malah bingung, tapi mereka mendukungku, ada yag tertawa juga karena
usulku yang sedikit aneh, dimana-mana mahasiswa ingin menambah batas waktu refisi,
aku malah ingin 1 hari. Tapi ini semua demi ikut pendaftaran yudisium yang
waktunya sebentar lagi. Belum mengurus persyaratan yang lain, mencari tanda
tangan dosen dan dekan yang keberadaannya tidak pasti. 1 minggu adalah waktu
yang sangat singkat.
Akhirnya
sepulang dari kampus, aku langsung menuju kamar kos, istirahat sebentar dan
cerita pengalaman sidang ke teman-teman membuatku sedikit terhibur. Tak ingin
membuang waktu, semalam suntuk aku mebgerjakan refisian sejumlah 2 lembar.
Jujur aku nggak tidur malam itu, dengan di temani secangkir kopi, ya, selama
penggarapan skripsi kopi menjadi teman setia. Itupun tidak mudah, aku harus
mengedit kembali judul skripsi, tentunya kalau sudah masalah judul yang di edit
semuanya harus di rombak ulang. Tak mau pusing dengan semua refisian, aku
kerjakan satu persatu dari halaman pertama, benar-benar teliti. Mengedit kata
masih terbilang mudah. Tapi kalau sudah masuk pembahasan huwf..nyerah deh!
Sesekali aku istirahat merebahkan diri, memejamkan mata bukan untuk tidur, tapi
menenangkan fikiran, tak lupa doa selalu terucap, Ya Allah..bantu iis, semoga
selesai satu malam ini dan besok udah bisa di kumpul. Amiin.. selalu begitu,
dan kalau ingat dengan target dan berdoa begitu semangatku tumbuh lagi,
kerjakan lagi, sampai pagi. Setelah pukul 8 pagi akhirnya selesai juga, tapi
belum lega, soalnya belum di print, setelah mandi aku langsung ke tempat
rental, untungnya sebagian sudah aku print di kost, karena tintanya habis, aku
harus rela mengantri di rentalan, dan tepat jam 11 aku sampai di ruangan ibu
pembimbing, tapi sayang yang di tunggu belum juga datang, katanya sih jam 1
siang beliau baru datang. Ada waktu 2 jam, aku gunakan untuk makan di kantin.
Dan
waktu 1 hari itu tidak membuahkan hasil positif, dosenku bilang baru bisa di
baca besok seninnya, ya Ampun..aku lemes. Tetapi mau gimana lagi, sabtu dan
minggu libur. Singkat cerita perjuanganku satu minggu itu mencapai hasil juga,
aku bisa daftar yusidium untuk bulan agustus walaupun harus menunggu dosen
sampai jam 5 sore di koridor, tentunya bersama mahasiswa lain yang senasib
denganku.
Pengalamanku
ini memberikan kisah tersendiri dan tentunya banyak pelajaran yang bisa di
ambil. Ada niat yang benar-benar kuat, memiliki target , berdoa dengan penuh
keyakinan akan pertolongan Allah dan tentunya kemauan serta usaha yang
maksimal. Dengan semua itu segala mimpi dan tujuan pasti bisa di raih. Bahkan
ketika orang mengatakan itu tidak mungkin, tetapi Allah berbeda, baginya tidak
ada yang tidak mungkin. Aku percaya Allah selalu ada dan bermurah hati untuk
menolong hambanya. Dan ini memang terbukti.
Tak
ingin melupakan ini, aku juga sangat berterimakasih Allah memberikan
orang-orang yang baik yang selalu mendukungku dalam doa dan transfer semangat.
Kedua orangtuaku dan mereka yang selalu ada untukku dengan segala motivasinya
baik dari bentuk kata-kata maupun doa, semua ini juga sangat berpengaruh akan
keberhasilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar