Jumat, 22 Maret 2013

dear my son


Senin, 18 Juni 2012
At 16. 54 am.
Sore ini aku tengah melepas lelah, hmmm... tapi bukan berleha-leha di kamar tanpa mengerjakan sesuatu, aku suka beristirahat di kamar sambil mencari inspirasi untuk menulis apa saja yang telah aku alami. Seperti hari ini. Dapat aku katakan hari ini cukup sempurna. Di sekolah aku mengerjakan beberapa tugas seperti mempersiapkan ijazah untuk siswa kelas IX. Sangat menyenangkan karena aku memiliki ilmu baru tentang administrasi sekolah. Tetapi pelajaran yang paling berharga hari ini adalah tentang bagaimana sikap kita menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita, ah, bukan, untuk adik atau siapapun itu. Intinya belajar bermain bersama anak-anak kecil, malaikat kecilku.
Aku sangat menyayangi adik-adik sepupuku sendiri yang masih unyu-unyu itu. Terutama caesar yang usianya paling muda di antara yang lain. Setiap sore aku mampir ke rumah bibi untuk mengajak caesar bermain. Kalau aku sudah datang tangannya sudah menengadah minta di gendong. Kedatanganku selalu disambut dengan senyum cerianya. Kalaupun aku sedang capek lihat senyum dia aja capeknya nggak terasa, kecuali kalau udah bermain-main lam, karena saking aktifnya aku kadang kewalahan dan nyerah deh..alhasil aku minta tolong mamah gantiin.hehehe...
Seperti biasa aku mengajaknya main di rumahku bersama si kembar aura aurel dan si aa yafi. Sekarang dia sudah bisa melangkah dengan jarak kira-kira 2 meter, aku masih takut melepasnya. Ngeri. Tapi memang harus di coba. Awalnya dia susah banget di ajak jalan, masih males, paling 3 langkah terus duduk, terus berdiri lagi. Lucunya sekarang dia tertarik banget dengan sandal, aku kenalkan aja dia sandal, terus aku pakai dan aku lompat-lompat dan melakukan gerakan jalan di tempat sambil berhitung satu sampai delapan seperti gerakan senam sambil tepuk tangan, diikuti anak-anak juga. eh..dia tertawa, sepertinya dia tertarik untuk mengikutinya, benar, dia berdiri lalu tepuk tangan. Di tanganku ada sandal lalu aku perlihatkan padanya. Sini..sini...Dia terus melangkah, seperti itu setiap sore, wah..senangnya... jangan menyerah untuk belajar ya sayang. Semoga cepat bisa jalan. J
Sore ini caesar sudah belajar jalan, dan mengenal panasnya api. Hmm..aku merasa bersalah banget. Selama ini dia tau panas itu kalau pegang mangkok berisi makanan panas, dia bilang tet..tet..dan tangannya di tarik ulur mendekat dan menjauh dari mangkok panas. Kalau ada kepul asapnya dia berusaha memegang asapnya. Hihi..
Oh iya, aku pernah lihat video anaknya temenku, usianya masih 2 tahun, di video itu dia sedang joget-joget sambil pegang rokok. Astagfirullah.., aku sih nggak tau maksudnya temenku apa. Tapi aku kurang setuju aja kalau anak apalagi usianya masih sangat muda di kenalkan sama rokok. Apa kata dunia. Aku memang belum menjadi ibu, tapi entah naluri mungkin. Sebagai orang tua atau orang yang lebih tua, tentu kita paham bagaimana hal yang baik dan tidak, maka sangatlah wajib mengenalkan hal-hal baik pada mereka, apa yang kita lakukan selalu mereka tiru, makanya kita juga harus hati-hati berperilaku, berkata di hadapan mereka, apa yang mereka dengar, lihat dari kita adalah hal baru yang akan mereka simpan di memori mereka. Bahkan daya tangkap mereka lebih cepat. Aku jadi banyak belajar dari pengalamanku mengasuh caesar.
Pernah ada pengalaman dari kakaknya caesar, ana. Dia mengeluarkan kata-kata kasar. Mungkin bagi orang dewasa itu wajar. Tapi kalau itu dikatakan anak kecil rasanya belum dan memang tidak pantas. Waktu aku tanya, kok bilangnya saru sih kak? Dia jawab, si anu juga bilang kayak gitu kok, . nah loh... teryata bicara dekat anak-anak juga harus hati-hati. Benar. Orang tua atau pendidikan keluarga adalah pondasi utama dalam karakter anak ke depannya. So buat kita para calon orang tua khususnya aku didiklah anak sebaik-baiknya, terutama agamanya. Tempatkan dan kenalkan dia di lingkungan yang baik dan boleh membebaskan mereka bermain, biar mereka bereksplorasi sendiri, yang penting kita masih mengawasi mereka.
Aku jadi ingat, waktu itu aku sedang sholat. caesar gangguin gitu, duduk di depan kadang narik-narik mukena. Terus ngeliyatin. Aku pikir dia sedang belajar. Aku kenalkan saja, aku peragakan sholat dengan mengucapkan takbir lalu sujud. Eh..dia niruin.  Terus waktu ana sedang belajar ngaji, dia ngerebut iqra-nya, terus niruin si kakak. Walaupun nggak jelas bngomong apa, tapi aku pikir dia sedang menirukan mengaji. Hihihi...seru sepertinya menjadi orang tua. Hal yang paling bermakna , ajarkan mereka dengan kasih sayang. Insya Allah mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah, amiinJ

my mom is my hero


Kalau aku melihat wajahnya, menatap fotonya, aku selalu ingin menangis, nggak tau kenapa. Aku tak pernah peduli seperti apa dulu. Kata mbah dan bibi-bibiku, saat usiaku masih 1 minggu aku sudah di bawa ke jawa. Aku memang lahir di tanah sunda, singaparna. Jawa barat. Tetapi aku tumbuh hingga dewasa di jawa tengah, walaupun bahasa kami tak jauh beda. Sejak usia 1 minggu aku tinggal bersama mbah dan keluarga besar dari ayahku, kedua orag tuaku masih menyelesaikan studynya di jawa barat. Jadi aku tidak minum ASI melainkan air susu biasa,. Dulu aku sempat kecewa dan sedih, kok mamah nggak mau ngerawat aku, makanya aku kurang dekat sama mamah. Tetapi sejak kuliah aku sudah mulai membuka diri, aku sudah berani bercerita tentang sahabat dan orang-orang terdekat ke mamah. Suatu saat aku pernah main ke rumah temanku, ia sangat akrab dan dekat sekali dengan ibunya, aku jadi iri. Sebenarnya ibuku bukanlah orang yang jahat, atau galak atau negatif.  Tetapi aku tidak pernah tau bagaimana mengungkapkan sayang aku. aku kurang dekat dengannya bukan berarti aku nggak sayang atau hubunganku dengan beliau kurang harmonis, tidak sama sekali.
Mamah adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dulu beliau sempat menjadi guru MA bersama bapakku, tetapi sejak kelahiran adikku, mamah memutuskan untuk menjadi Ibu rumah tangga. Sejak kecil aku di asuh oleh pengasuh, makanya aku kurang dekat dengan mamah, yang aku ingat hari-hari bersama beliau waktu kecil adalah ketika belajar berhitung matematika kelas 2 SD. Waktu itu di sekolah guruku memberi tugas pertambahan dan pengurangan. Nilaiku 90 dan salah di bagian pengurangan, kata pak guru pekerjaan ini di suruh di perbaiki di rumah. Jadi sepulang sekolah aku langsung minta di ajari mamah. Mamah mengajariku bagaimana mengurangi bilangan juga membaca sampai akhirnya aku bisa.
Aku mulai mengenal mamah dari cerita bibiku yan tidak lain adik dari bapak, juga dari kegiatan sehari-harinya saat ini. Sejak bibi punya warung klontong, mamah selalu membantunya di warung, mamah berangkat setiap pagi. Sebelumnya mamah pernah berwira usaha membuat lontong isi dan di titip di warung, juga membuat roti isi waktu SMA. Aku lihat betapa tekunnya mamah mengerjakan semua itu sendiri. Aku dan adikku membantu dalam pemasaran, kami menitipkan jajanan ke koperasi sekolah. Tetapi karena penghasilan yang sedikit akhirnya mamah berhenti dan beralih pada pembuatan sale dan rengginang. Mamah mengerjakan itu sendiri. Bapak membantu dalam pengemasan, alhamdulillah ini masih berjalan sampai sekarang. Aku selalu kasihan dan nggak tega lihat mamah membuat makanan itu sendiri, aku pernah bilang kenapa nggak minta di bantuin orang aja, punya karyawan gitu. Tapi mamah bilang, pekerjaan ini masih bisa di kerjakan sendiri, dan kalau punya karyawan mamah belum tentu bisa membayarnya banyak, karena untung dari penjualan makanan ini hanya untuk menutup kekurangan dari kebutuhan sehari-hari. Tetapi mamah terus menekuninya. Aku juga tak banyak membantu.
Sejak bibi punya warung mamah semakin sibuk dan waktu istirahatnya berkurang, apalagi sekarang hampir setiap hari ada kaian rutin di desa, mamah tak pernah absen untuk mengikuti kajian. Kadang aku sering mengeluh karena mamah jadi jarang di rumah dan jarang masak. Aku sempat protes. Aku tidak tau ini ternyata menyakiti hati mamah. Maaf. Sejak itu mamah selalu berusaha menyenangkanku, kalau mau masak, mamah selalu tanya kamu mau minta di masakin apa? Selalu begitu.
Ya Allah...aku tak pernah melihat perjuangannya yang sangat berat. Ku mulai mengerti kalau pekerjaan seorang mamah itu sanagt berat ketika 1 minggu di tinggal mamah ke Tasik. Waktu itu ayahnya mamah meninggal dunia jadi mamah harus di sana 1 minggu. Sejak itu aku yang memegang pekerjaan rumah tangga, mengurusi bapak dan adikku. Mencuci piring, memikirkan akan masak apa hari ini, mencuci baju dan menjemurnya sebelum aku berangkat kerja sehingga mengharuskan aku bangun lebih pagi dari biasanya, menyapu rumah, menyetrika baju bapak. Biasanya aku hanya menyetrika bauku sendiri. Sejak itu aku tau, ternyata jadi mamah capek banget, berat, melelahkan bahkan lebih berat dari pada pekerjaan aku di sekolah. Padahal mamah nggak hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, beliau juga harus mengikuti kajian rutin di desa,  3 minggu sekali bantu bibi di warung klontong, kalau sore kadang mengasuh caesar. tetapi mamah tak pernah sama sekali mengeluh atau merasa capek.  Bahkan beliau tak pernah menyuruh aku atau adikku bekerja. Makanya keterampilanku dalam pekerjaan rumah tangga kurang, tetapi pengalaman menjadi anak kost membuatku sedikit tau dan sekarang aku sudah bisa membantunya, walaupun tak sering.
Pernah, waktu itu hari minggu, pagi-pagi seperti biasa mamah menyiapkan sarapan, sekarang aku sudah mulai bantu sedikit-sedikit di dapur seperti mencuci piring atau kalau lagi ingin masak aku yang menawarkan diri untuk masak, mamah seneng banget kalo aku masak. Mungkin karena aku jarang bantuin, hehe.. . hari itu mamah ada acara kajian di desa sampai siang. Karena hari itu hari minggu aku menggunakan waktu itu untuk bersantai-santai, pokoknya tidak ada yang boleh mengganggu istirahatku. Hp aku sillent. Siangnya mamah pulang, aku masih asyik tidur, alhamdulillah mamah bawa makanan, jadi nggak perlu masak untuk makan siang, ternyata sejak aku tidur tadi bapaknya caesar telpon aku, aku tau maksudnyamenelpon yaitu untuk mengasuh caesar, tetapi saat ini aku memang sedang tak ingin di ganggu. Ternyata pamanku malah nyuruh mamah. Ya Allah..tega banget sih, nyuruh mamah. Padahal mamah kan baru dateng kajian. Tetapi mamah nggak menolak atau mengeluh, mamah langsung ke rumah bibi dan membawa caesar ke rumahku. Tak tega aku sama mamah, akhirnya aku yang menjaga caesar dan mengajaknya bermain. Sore harinya mamah yang gantian mandiin caesar dan pulang jam 5. Ya Allah..aku tau pasti mamah capek, bayangkan dalam sehari beliau tak sedikitpun istirahat kecuali makan siang dan sholat. Tetapi mamah tak pernah mengeluh, beliau sangat sabar, tidak pernah marah dan membentak. Seumur hidupku aku tak pernah sedikitpun mendapat bentakan. Pernah sih sekali itu juga gara-gara aku susah di bangunkan pagi, padahal udah lewat waktu subuh dan hari itu aku harus berangkat sekolah, jadi buatku itu memang wajar.

ilmu yang bermanfaat


Siang ini matahari sedang tak bersahabat, panaaasss... membuat suasana hati tambah nggak karuan dan inginnya di dalam rumah aja, tetapi siang ini aku harus pergi ke acara hajatan kepala sekolah. Jadi dari sekolah nggak bisa langsung pulang. Tepat pukul 10.00 kami semua berangkat menuju desa Pengarasan tempat di mana aku dulu bertugas mengawasi ujian, tapi bedanya sekarang ke rumah kepala sekolah bukan ke sekolah yang dulu. Setiadaknya aku sudah paham betul medan perjalanan menuju ke sana, luar biasa sulitnya. Jalannya yang terjal di tambah aspal yang sudah tak wajar membuat aku nggak berani mengendarai motor sendiri, dulu juga waktu tugas aku minta diantar. Untungnya pamanku juga menjadi tamu undangan, jadi aku bisa nebeng mamang, biasa aku memanggilnya.  Hehehe..lumayan kan, nggak capek, tapi aku juga nggak berani kalau harus melewati jalan super rusak itu. Makasih ya mamang.
Selama perjalanan berangkat sampai pulang lagi memang tidak menyenangkan, selain harus menahan panas teriknya matahari, di tambah debu dari jalanan karena hilir mudiknya kendaraan. Tetapi semua ini dapat sedikit terobati. Sepanjang perjalanan aku bisa menikmati karya Allah SWT, melihat selintas pemandangan yang indah. Pohon pinus yang berjejer sepanjang jalan, hamparan padi yang masih menghijau. Kata pamanku di sini hasil panennya bagus dan masih subur.
Sepanjang perjalanan pulang aku dan paman banyak bercerita ngalor ngidul nggak jels, sampai akhirnya menemukan cerita yang membuatku takjub. Dari yang awalnya cerita tentang pekerjaan akhirnya paman menceritakan kisah seorang teman kerjanya. Namanya bapak Yasim. Yang unik dari bapak Yasim adalah pemikirannya tentang sebuah ilmu. Berbeda dengan orang pada umumnya.
“tau nggak is, mungkin dia orang satu-satunya yangmasih memegang prinsip sekolah untuk mencari ilmu, bukan ijazah” begitu pendapat paman.
“masa sih mang?” tanya ku.
“iya, dia kuliah 2 kali, tetapi khusus untuk ilmu yang ingin ia pelajari, kalau mata kuliah yang dia nggak suka dia nggak ambil, dia kuliah sampai lulus, tapi ijazahnya nggak pernah dia ambil”
“kok gitu mang? Ada ya orang seperti dia”
“makanya itu, pemikirannya masih murni dan tulus, dia pernah bilang, aku sekolah tinggi niatnya untuk medapatkan ilmunya dan akan aku amalkan. Bukan buat cari gelar atau ijazah, bukan untuk cari kerja, buat aku rejeki itu bisa di cari asalkan halal.”
Hah...ada rasa kagum dengan pemikiran beliau, tapi unik, pemikirannya jaman kuna banget, tapi takjub aja masih ada orang seperti itu.
“trus mang, kok dia bisa jadi guru?”
“dia jadi guru swasta dan tidak memiliki gelar, tetapi memang benar, dia sangat pintar dalam ilmu falaq, kalau di sekolah ia mengajar, kalau nggak ada kegiatan dia sering mengisi pengajian di pondok pesantren, apalagi kalau bulan ramadhan, dia aktif mengisi kajian.”
“trus kalo ada kenaikan pangkat atau tes CPNS gimana?”
“dia nggak pernah mikirin itu, prinsip dia hanya mengamalkan ilmu yang dia miliki, kalau teman-teman kerjanya sibuk mengurusi kenaikan pangkat/ sertifikasi, dia cuek aja, nggak peduli. Itu sudah menjadi prinsipnya. Banyak sih orang yang nggak setuju dengan pemikirannya. Tapi ya seperti itulah orangnya”
Subhanalloh...di jaman modern seperti sekarang, masih ada orang seperti itu, pemikiran yang orang jaman nabi banget, punya hati yang tulus mencari ilmu untuk diamalkan, bukan mencari ijazah, gelar. Bahkan sekarang banyak orang sekolah tinggi-tinggi dengan biaya mahal, tapi beberapa dari mereka hanya sekedar mencari gelar untuk kenaikan pangkat atau sekedar menaikkan gengsi. Aku sendiri tujuan kuliah selain mencari ilmu tujuan akhirnya ya untuk nyari kerja.
“barang siapa yang keluar rumah untuk belajar satu bab dari ilmu pengetahuan, maka ia telah berjalan fisabilillah samapi ia kembali ke rumahnya” HR Tirmidzi dari Anas Ra.
“sungguh, orang-orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan, merekalah makhluk sebaik-baiknya” QS Al Bayyinah (bukti nyata) 98:7.
Hadist di atas mengingatkan ku pada sesuatu, kalau Allah tidak pernah melihat kedudukan manusia dari pangkatnya atau kekayaannya. Tetapi akhlaknya. Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat.
Kadang kita ingin sekolah setinggi-tingginya, mungkin ada yang berpikir karena ingin mencari gelar, sampai namanya panjang sekali karena kebanyakan gelar, hihi, aku juga kadang takjub melihat orang bergelar banyak sampai prof. Dalam benakku berkata orang ini otaknya seperti apa ya? Genius banget, nggak pusing apa yah?
Ada juga yang sekedar kuliah karena di tuntut oleh perkembangan jaman, ya macam aku ini, ada tekad dalam hati untuk mencari ilmu karena siapa sih yang nggak bangga dan nggak mau jadi orang cerdas, sukses, ya aku pikir sih, dengan jalan kuliah aku bisa mencari kerja sesuai impianku. Masing-masing orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri.
Semuanya nggak salah, bahkan pak yasim ini membuktika pada kita, khususnya aku, bahwa ilmu itu sangatlah berharga, bahkan untuk meraih ilmu saja kita harus kuliah, ada yang harus mengeluarkan banyak biaya, ada yang beruntung bisa mendapatkan beasiswa dan susah payah hanya untuk mendapatkan ilmu dan gelar. Benar ilmu itu sangat mahal, bukan dari segi materi tetapi ilmu itu sendiri. Sangatlah berharga.
Makanya, kadang aku miris, masih ada orang sekolah tapi malas-malasan, ada juga orang sekolah tinggi tapi ilmunya tidak di amalkan dalam dirinya. Sekedar gengsi saja.
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mencari ilmu dan mengamalkannya. Kehidupan ini. Ya, inilah universitas kita sbenarnya, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari setiap perjalanan hidup kita, bagi orang yang mau berpikir lho yaa..
Bagi orang yang nggak mau berpikir ya mereka biasa saja menjalani hidup. Makanya Allah memberikan akal kepada manusia untuk berpikir, dengan berpikir baik dan mampu mengolah pemikiran kita, kita menjadi orang yang bersyukur.

ibu


26 juni 2012
Seperti biasanya, sore ini aku mampir ke rumah tetanggaku yang tak lain paman dan bibiku sendiri, seperti biasa kami bersenda gurau sambil menonton tv, kebetulan hari ini kami sedang menonton tayangan berita tentang perencanaan sosialisasi kondom,  aku akan membahas masalah ini, tapi bukan di bab ini ya... sebenarnya dari obrolan ini pamanku jadi bercerita tentang salah satu bidan yang ada di kecamatan kami, kecamatan bantarkawung, tepatnya desa Jipang.
Sebelumnya paman bercerita ada seorang siswa yang hamil di luar nikah, gadis itu sudah cukup lama tak membicarakan masalah ini dengan orang tuanya, sampai kandungannya sudah cukup besar dan akhirnya orang tua gadis itu tau. Setelah berunding akhirnya orang tua mengijinkan untuk segera menggelar acara pernikahan, akan tetapi tepat di hari H, sang mempelai laki-laki tak kunjung datang, katanya sih kabur, tentu saja sang ayah mempelai putri shock dan sempat stress, akhirnya putrinya tersebut di usir dari rumah orang tuanya, gadis itu bingung hendak kemana, dan entah bagaimana ceritanya hingga akhirnya dia datang ke tempat persalinan bidan suprapti. Di tempat itu dia di rawat hingga proses melahirkan, dengan syarat anaknya nanti menjadi anak angkat ibu bidan, dan gadis yang telah menjadi seorang ibu itu tetap bekerja membantu bidan dengan merawat anaknya sendiri.
Pamanku terus bercerita, dan aku sempat nggak percaya, masa sih? Aku memang nggak begitu kenal dengan beliau, tetapi kata bibi juga begitu, bu prapti adalah orang baik, beliau selalu menolong orang terutama merawat anak-anak yang hamil di luar nikah dan menjadikan si bayi sebagai anaknya sendiri dan membesarkannya hingga sukses, terbukti semua anak angkatnya sekarang ada yang sudah kerja dan masih kuliah. Beliau tidak memiliki anak, suaminya sudah meninggal dan kini beliau hidup bersama anak-anak angkatnya. Subhanalloh..
Dari cerita ini aku bisa belajar dari beliau tentang bagaimana peran sebagai seorang bidan yang mau menyelamatkan si calon bayi dari seorang yang hamil di luar pernikahan, padahal tak sendikit mereka yang hamil di luar nikah ingin menggugurkan kandungan mereka dikarenakan malu nggak punya bapak, kalau malu kenapa mau ya?hm, tapi aku nggak mau bahas ini. Dengan segala kemampuan yang dimiliki beliau, beliau rela dan ikhlas menolong dan membesarkan bayi-bayi tak berdosa ini hingga menjadi orang sukses.