Sabtu, 30 Juni 2012

galeri miaww 101 ^^

awal cerita aku sama titis lagi jalan-jalan di depstore cari-cari baju, eh..ada anak kucing ngikutin kita terus, kayaknya sih kelaparan, karena cuma kita yang respect sama itu kucing dia ngikutin terus sampe kita mau pulang, nggak tega ninggalin dia, akhirnya kita sepakat merawat anak kucing itu, sebelumnya kita brunding, "mau di kasih makan apa, wong kita aja makan seadanya"
"di kasih tempe aja sama nasi, kalau susu bisa lah.."
akhirnya kami bawa si anak kucing malang itu xixixi.., kebetulan bulu dan matanya bagus banget, jadi nggak mungkin kalo ini kucing liar.
kira-kira tahu 2010. sampai di kost semuanya menyambut baik kedatangan si kucing, tapi lama kelamaan kami nggak punya stok makanan lagi, dia susah makan, sampai suatu hari aku dan titis berencana membuangnya, nurut banget, tkami keluar dia ngikutin... niatnya mau di buang ke jalan, hehehe..tega banget yah, sebenarnya nggak tega, tapi bingung sih, di tawarin ke teman-teman yang suka kucing nggak mau karena udah banyak. nah saaat itu ibu kost dan anak-anaknya lihat dan kayaknya mereka juga suka, kami bilang nggak bisa ngurusinnya umi.. kalau umi mau buat umi aja.hehe..
untungnya umi mau, Alhamdulillah...kucingnya terurus dengan baik, namanya jadi lupy nama pemberian si kembar sa dan fa, maaknannya kelas atas, ikannya guramw, padahal anak kost aja jarang makan ikan. wah..lupy beruntung, sekarang udah punya anak banyak dan bagus-bagus. ini metamorfose kehidupan lupy ^^











Jumat, 29 Juni 2012

semangat yang tak pernah padam


©      Niat + kemauan = BISA
“Aduuh...banyak banget kerjaanku” “aduuh...bisa nggak yah? Ini kan susah banget?”
“huwf! Males, capek, ntar aja deh..”
Nah loh...ini nih cuap-cuap yang biasanya dilontarkan para pecundang, ops! Termasuk saya juga pernah menajdi pecundang, hihihi..., maaf yah..kalau saya menyebut pengeluh sebagai pecundang, soalnya sukanya menyerah dulu sebelum berperang. Banyak mengeluhnya daripada semangatnya. Yup! Setiap orang mungkin sangat wajar kalo mengeluh, namanya juga manusia, tapi kalau hal ini menjadi kebiasaan kan nggak lucu juga, gara-gara alasannya namanya juga manusia, jauh dari kesempurnaan, hemmm... SALAH BESAR!!
Saya punya cerita dari seseorang, mm.. hehe.. yang aku kenal dari dia orangnya suka banget mengeluh, capek, males dan banyak alasan-alasan lain yang buat aku jadi sedikit jengkel, tetapi aku tak pernah lelah untuk menyemangatinya, karena hanya itu yang bisa dilakukan, right??
Suatu hari dia diterima kerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Pusat, padahal tempat tinggalnya itu di jakarta selatan, aku yang belum dua kali ke jakarta tentu nggak paham seberapa jauh jarak yang harus di tempuh, tapi dia bilang sih sebenarnya nggak terlalu jauh, hanya saja harus melewati yang namanya kemacetan sehingga membuat perjalanan yang harusnya cukup 1 jam menjadi 2 jam, heh? Segitu parahkah kemacetan di Jakarta??
Awalnya dia bekerja aku sudah menduga akan banyak sekali keluhan yang keluar dari mulutnya, memang benar, di tambah lagi kerjaan yang sangat  banyak. Hari demi hari di lalui, sekarang sudah 4 bulan dia bekerja dan alhamdulillah masih bertahan, dia bilang ternyata kalau dijalanin jadi terbiasa, dan sebenarnya nggak patut buat mengeluh, masih banyak orang-orang yang tempat kerjanya lebih jauh, bahkan ada yang tidak menggunakan kendaraan pribadi. Alhamdulillah..dia sudah menyadari, ini pembelajaran buatku juga, dia juga pernah bilang begini
“tau nggak is, kerjaan mas tiap hari numpuk, kerjaannya sih kayak ngerjain skripsi, ngetik dan pake mikir, sebelumnya mas liyat tumpukan dokumen yang harus dipelajari, huh, kalau udah lihat itu males aja bawaannya, haduh! Tapi mas coba duduk dan mulai membuka-buka, selalu kata aduh yang keluar, tapi mau nggak mau mas harus ngerjain, terus dan terus di kerjakan dan nggak terasa udah sore, padahal tadi pagi ngeliyat dokumen numpuk ajah udah pusing duluan. ternyata kalau kita ada niat dan mau melakukannya kerjaan yang tadinya berat selesai juga dan nggak terasa terasa malah.” Begitu ceritanya di telpon.
Hmm...satu pelajaran lagi buat kita, niat dan kemauan untuk mengerjakan dan tentunya kerjakan terus, lawan si malas!
Aku jadi inget jaman masih kuliah dan mengurusi skripsi, kebayang nggak sih gimana susahnya, sebenarnya sih merangkai kata-kata atau sekedar copy paste dari buku gampang aja, tapi kerja sama dengan dosen yang kadang buat para mahasiswa jadi males dan alhasil menunda-nunda si skripsi itu, alasannya susah ketemu dosen lah, dosennya sibuk dan macam-macam alasan. Aku juga pernah mengalami hal ini, 7 bulan aku mengurusi skripsi dari proposal hingga jadi sebendel karya bersejarah itu. Dan yang paling berkesan buatku adalah detik-detik setelah sidang Skripsi.
Aku begitu ngototnya ingin ikut yudisium bulan Agustus, pikiran aku kacau balau, pokoknya aku harus bisa wisuda bulan September 2011 sesuai targetku. Setiap hari kerjaanku ke kampus menunggu dosen, beruntung kalau bisa ketemu, pernah juga udah nunggu lama nggak taunya nggak dateng, kecewa sih, tapi namanya perjuangan di nikmati ajah. Hari itu tanggal 4 agustus 2011, tepat dimana aku akan mempertarhkan masa 4 tahun kuliah dan kelulusanku di tentukan oleh hari itu. Sidang skripsi yang kata orang-orang tegang, apalagi kata temen-temen dosen pengujiku sangat kritis, kebayang banget seperti apa tegangnya, tapi mau nggak mau dan memang harus mau aku melaluinya, udah acc dan aku mengejar target juga. Kurang lebih 45 menit berlalu di meja sidang, dan Alhamdulillah, semua berjalan lancar, sebenarnya nggak juga sih, aku sempat nangis waktu keluar dari ruangan, temen-temen pada kaget dan bertanya-tanya “kenapa nangis is?”
“refisinya bnayak banget..” jawabku lemes, di tambah lagi aku di kasih batas waktu 1 minggu. Aku takut nggak bisa ngejar pendaftaran yusdisium yang batas waktunya juga 1 minggu lagi. Maunya aku udah langsung jilid, hehe...
Pas aku masuk ke ruangan lagi, pembimbingku ibu Yuliyati M.Kes dab Ibu Marfuatun M.Si menyarankan untuk segera refisi dan memberi batas waktu 1 minggu, tapi aku mengusulkan
“ibu, bagaimana kalau saya di kasih waktu 1 hari, boleh tidak?”
Semua dosen malah bingung, tapi mereka mendukungku, ada yag tertawa juga karena usulku yang sedikit aneh, dimana-mana mahasiswa ingin menambah batas waktu refisi, aku malah ingin 1 hari. Tapi ini semua demi ikut pendaftaran yudisium yang waktunya sebentar lagi. Belum mengurus persyaratan yang lain, mencari tanda tangan dosen dan dekan yang keberadaannya tidak pasti. 1 minggu adalah waktu yang sangat singkat.
Akhirnya sepulang dari kampus, aku langsung menuju kamar kos, istirahat sebentar dan cerita pengalaman sidang ke teman-teman membuatku sedikit terhibur. Tak ingin membuang waktu, semalam suntuk aku mebgerjakan refisian sejumlah 2 lembar. Jujur aku nggak tidur malam itu, dengan di temani secangkir kopi, ya, selama penggarapan skripsi kopi menjadi teman setia. Itupun tidak mudah, aku harus mengedit kembali judul skripsi, tentunya kalau sudah masalah judul yang di edit semuanya harus di rombak ulang. Tak mau pusing dengan semua refisian, aku kerjakan satu persatu dari halaman pertama, benar-benar teliti. Mengedit kata masih terbilang mudah. Tapi kalau sudah masuk pembahasan huwf..nyerah deh! Sesekali aku istirahat merebahkan diri, memejamkan mata bukan untuk tidur, tapi menenangkan fikiran, tak lupa doa selalu terucap, Ya Allah..bantu iis, semoga selesai satu malam ini dan besok udah bisa di kumpul. Amiin.. selalu begitu, dan kalau ingat dengan target dan berdoa begitu semangatku tumbuh lagi, kerjakan lagi, sampai pagi. Setelah pukul 8 pagi akhirnya selesai juga, tapi belum lega, soalnya belum di print, setelah mandi aku langsung ke tempat rental, untungnya sebagian sudah aku print di kost, karena tintanya habis, aku harus rela mengantri di rentalan, dan tepat jam 11 aku sampai di ruangan ibu pembimbing, tapi sayang yang di tunggu belum juga datang, katanya sih jam 1 siang beliau baru datang. Ada waktu 2 jam, aku gunakan untuk makan di kantin.
Dan waktu 1 hari itu tidak membuahkan hasil positif, dosenku bilang baru bisa di baca besok seninnya, ya Ampun..aku lemes. Tetapi mau gimana lagi, sabtu dan minggu libur. Singkat cerita perjuanganku satu minggu itu mencapai hasil juga, aku bisa daftar yusidium untuk bulan agustus walaupun harus menunggu dosen sampai jam 5 sore di koridor, tentunya bersama mahasiswa lain yang senasib denganku.
Pengalamanku ini memberikan kisah tersendiri dan tentunya banyak pelajaran yang bisa di ambil. Ada niat yang benar-benar kuat, memiliki target , berdoa dengan penuh keyakinan akan pertolongan Allah dan tentunya kemauan serta usaha yang maksimal. Dengan semua itu segala mimpi dan tujuan pasti bisa di raih. Bahkan ketika orang mengatakan itu tidak mungkin, tetapi Allah berbeda, baginya tidak ada yang tidak mungkin. Aku percaya Allah selalu ada dan bermurah hati untuk menolong hambanya. Dan ini memang terbukti.
Tak ingin melupakan ini, aku juga sangat berterimakasih Allah memberikan orang-orang yang baik yang selalu mendukungku dalam doa dan transfer semangat. Kedua orangtuaku dan mereka yang selalu ada untukku dengan segala motivasinya baik dari bentuk kata-kata maupun doa, semua ini juga sangat berpengaruh akan keberhasilan.
note: untuk kita semua yang sedang berjuang dalam hal apapun demi meraih mimpi yang kita inginkan teruslah semangat dan selalu ingat Allah, karena Dia selalu ada dan terbuka untuk kita, jangan mudah menyerah dengan keadaaan apapun yang sedang kita hadapi, karena susutau yang menjadi penghalang kita bisa jadi itu hanya ujian apakah kita pantas untuk menjadi sukses. pak mario tegus mengatakan malas sama dengan menunda kesuksesan, hmm..nggak mau berlama-lama untuk menjadi sukses? yuukk mari kita semangat berjuang!!!haja! fight! ^^

Kamis, 28 Juni 2012

holy..holy..holiday and smart holy^^

Liburan
Siapa sih yang tidak senang dengan datangnya hari libur panjang, pasti semua anak-anak menginginkan liburan yang menyenangkan agar menjadi bahan cerita mereka pada waktu masuk sekolah lagi, ups..sayangnya, para orang tua juga tidak mudah untuk mengisi kebersamaan bersama mereka, tentu saja, yang libur kan para pelajar bukan pekerja swasta, bahkan guru-guru juga jarang bisa berlibur di akhir tahun pelajaran seperti sekarang, contohnya saya ini nih,,,hehe..tapi jangan berkecil hati. Liburan yang lumayan panjang ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Tidak perlu dengan biaya mahal atau pergi jauh-jauh sampai harus merogoh kocek banyak, apalagi para orang tua tidak memiliki banyak waktu. Tentu tidak ingin mengecewakan para buah hati anda semua. Ini dia beberapa tips menarik untuk mengisi liburan bersama para anak-anak.
©      Untuk anak-anak sampai usia SD, mereka tentu masih perlu dalam pengawasan orang tua, kalau orang tua sibuk anda bisa mengajak mereka ke rumah saudara atau nenek di akhir pekan, sehingga ada sekiranya waktu untuk bermain bersama mereka. Baru setelah itu tanyakan pada mereka kalau masih ingin berlibur ijinkan mereka untuk menginap bersama keluarga terdekat, sementara anda para orang tua bisa bekerja, yah..paling tidak satu minggu.
©      Tapi kalau ingin menghabiskan libur bersama anak-anak, tanpa harus merepotkan nenek dan kakek bisa juga kok, pada hari libur kerja ajak anak bermain di kebun, beruntung kalau kita punya lahan untuk mengajak mereka belajar berkebun, selain mengajarkan mereka bagaimana berkebun juga menanamkan kecintaan pada alam.hmm...nggak perlu menguras biaya dan waktu yang banyak. Kalau tidak memiliki banyak lahan bisa juga menggunakan tekhnik hidroponik dan lainnya. Baru setelah itu buat sesuatu yang menarik di halaman rumah anda, dengan menggelar tikar lalu memasak bersama, pasti sangat menyenangkan. Bayangkan saja anda sekeluarga sedang bertamasya ke kebun.
©      Sesekali boleh juga makan di luar, mungkin menjadi hal biasa kalau sekedar makan di luar, tapi agar lebih seru ajak ke tempat pemancingan, sekarang kan sudah banyak tempat makan dengan menyediakan kolam ikan untuk di pancing, dan hasil pancingan kita sendiri dapat kita olah. Selain anak diajarkan belajar memancing kita juga menerapkan belajar bersabar, hehehe..
©      Dan yang paling kreatif adalah membuat prakarya. Sekarang banyak sekali ide-ide kreatif yang bermunculan dari anak-anak muda hingga dewasa, kalau kita kurang kreatif jangan khawatir karena internet sudah banyak menyediakan aneka tutorial kita para orang tua bisa mencobanya dan membelajarkannya pada si anak. Kalau perempuan misalnya belajar membuat bros atau pita rambut dari kain flanel atau kalau nggak mau beli bisa menggunakan kain yang sudah tidak di gunakan, cari saja yang motifnya bagus.
©      Nah sekarang untuk oara remaja, hmm..biasanya beberapa dari mereka ada yang sudah malu pergi bersama keluarganya, sebenarnya nggak salah sih, mungkin karena usia mereka adalah usia dimana sedang mencari jati diri, jadi mereka lebih senang bermain dan menghabiskan waktu liburan bersama teman-teman. Tapi orang tua juga perlu waspada yah.. ijinkan mereka bermain tapi para orang tua harus tau dengan siapa mereka pergi dan memberikan waktu tenggang. Kalau misalnya mereka ingin mengadakan camping bersama sebaiknya tanyakan apakah ada guru yang mendampingi? Kalau nggak ada sebaiknya tidak di ijinkan, bukannya melarang atau tidak percaya, tetapi waspada. Pasti tau kan alasannya apa?hehe.. Nah untuk para remaja putri bisa juga melalukan kegiatan seperti di atas tadi bersama teman-temannya, pasti menyenangkan deh. Ini namanya liburan yang bermanfaat.
©      Ada lagi yang bisa kita lakukan untuk mengisi liburan panjang, misalnya merencanakan berkunjung ke tempat-tempat sosial, ke panti atau rumah belajar yang ada di tempat kalian, selain kita bisa berbagi pengalaman dan ilmu, kita akan banyak belajar tentang kehidupan, belajar berbagi dengan sesama.
Nah..beberapa tips di atas semoga dapat bermanfaat untuk anda semua baik orang tua maupun para remaja. Jadikan liburan kita bermanfaat tidak sekedar menghabiskan uang, atau menghabiskan waktu liburan dengan berfoya-foya. Ingat yah... liburan sekolah bukan berarti kita libur belajar dengan pelajaran-pelajaran, tetapi kita dapat belajar banyak hal untuk diri kita tentunya dari lingkungan sekitar kita. Selamat berlibur.. J

Selasa, 26 Juni 2012

pencari ilmu sejati


Siang ini matahari sedang tak bersahabat, panaaasss... membuat suasana hati tambah nggak karuan dan inginnya di dalam rumah aja, tetapi siang ini aku harus pergi ke acara hajatan kepala sekolah. Jadi dari sekolah nggak bisa langsung pulang. Tepat pukul 10.00 kami semua berangkat menuju desa Pengarasan tempat di mana aku dulu bertugas mengawasi ujian, tapi bedanya sekarang ke rumah kepala sekolah bukan ke sekolah yang dulu. Setiadaknya aku sudah paham betul medan perjalanan menuju ke sana, luar biasa sulitnya. Jalannya yang terjal di tambah aspal yang sudah tak wajar membuat aku nggak berani mengendarai motor sendiri, dulu juga waktu tugas aku minta diantar. Untungnya pamanku juga menjadi tamu undangan, jadi aku bisa nebeng mamang, biasa aku memanggilnya.  Hehehe..lumayan kan, nggak capek, tapi aku juga nggak berani kalau harus melewati jalan super rusak itu. Makasih ya mamang.
Selama perjalanan berangkat sampai pulang lagi memang tidak menyenangkan, selain harus menahan panas teriknya matahari, di tambah debu dari jalanan karena hilir mudiknya kendaraan. Tetapi semua ini dapat sedikit terobati. Sepanjang perjalanan aku bisa menikmati karya Allah SWT, melihat selintas pemandangan yang indah. Pohon pinus yang berjejer sepanjang jalan, hamparan padi yang masih menghijau. Kata pamanku di sini hasil panennya bagus dan masih subur.
Sepanjang perjalanan pulang aku dan paman banyak bercerita ngalor ngidul nggak jels, sampai akhirnya menemukan cerita yang membuatku takjub. Dari yang awalnya cerita tentang pekerjaan akhirnya paman menceritakan kisah seorang teman kerjanya. Namanya bapak Yasim. Yang unik dari bapak Yasim adalah pemikirannya tentang sebuah ilmu. Berbeda dengan orang pada umumnya.
“tau nggak is, mungkin dia orang satu-satunya yangmasih memegang prinsip sekolah untuk mencari ilmu, bukan ijazah” begitu pendapat paman.
“masa sih mang?” tanya ku.
“iya, dia kuliah 2 kali, tetapi khusus untuk ilmu yang ingin ia pelajari, kalau mata kuliah yang dia nggak suka dia nggak ambil, dia kuliah sampai lulus, tapi ijazahnya nggak pernah dia ambil”
“kok gitu mang? Ada ya orang seperti dia”
“makanya itu, pemikirannya masih murni dan tulus, dia pernah bilang, aku sekolah tinggi niatnya untuk medapatkan ilmunya dan akan aku amalkan. Bukan buat cari gelar atau ijazah, bukan untuk cari kerja, buat aku rejeki itu bisa di cari asalkan halal.”
Hah...ada rasa kagum dengan pemikiran beliau, tapi unik, pemikirannya jaman kuna banget, tapi takjub aja masih ada orang seperti itu.
“trus mang, kok dia bisa jadi guru?”
“dia jadi guru swasta dan tidak memiliki gelar, tetapi memang benar, dia sangat pintar dalam ilmu falaq, kalau di sekolah ia mengajar, kalau nggak ada kegiatan dia sering mengisi pengajian di pondok pesantren, apalagi kalau bulan ramadhan, dia aktif mengisi kajian.”
“trus kalo ada kenaikan pangkat atau tes CPNS gimana?”
“dia nggak pernah mikirin itu, prinsip dia hanya mengamalkan ilmu yang dia miliki, kalau teman-teman kerjanya sibuk mengurusi kenaikan pangkat/ sertifikasi, dia cuek aja, nggak peduli. Itu sudah menjadi prinsipnya. Banyak sih orang yang nggak setuju dengan pemikirannya. Tapi ya seperti itulah orangnya”
Subhanalloh...di jaman modern seperti sekarang, masih ada orang seperti itu, pemikiran yang orang jaman nabi banget, punya hati yang tulus mencari ilmu untuk diamalkan, bukan mencari ijazah, gelar. Bahkan sekarang banyak orang sekolah tinggi-tinggi dengan biaya mahal, tapi beberapa dari mereka hanya sekedar mencari gelar untuk kenaikan pangkat atau sekedar menaikkan gengsi. Aku sendiri tujuan kuliah selain mencari ilmu tujuan akhirnya ya untuk nyari kerja.
“barang siapa yang keluar rumah untuk belajar satu bab dari ilmu pengetahuan, maka ia telah berjalan fisabilillah samapi ia kembali ke rumahnya” HR Tirmidzi dari Anas Ra.
“sungguh, orang-orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan, merekalah makhluk sebaik-baiknya” QS Al Bayyinah (bukti nyata) 98:7.
Hadist di atas mengingatkan ku pada sesuatu, kalau Allah tidak pernah melihat kedudukan manusia dari pangkatnya atau kekayaannya. Tetapi akhlaknya. Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat.
Kadang kita ingin sekolah setinggi-tingginya, mungkin ada yang berpikir karena ingin mencari gelar, sampai namanya panjang sekali karena kebanyakan gelar, hihi, aku juga kadang takjub melihat orang bergelar banyak sampai prof. Dalam benakku berkata orang ini otaknya seperti apa ya? Genius banget, nggak pusing apa yah?
Ada juga yang sekedar kuliah karena di tuntut oleh perkembangan jaman, ya macam aku ini, ada tekad dalam hati untuk mencari ilmu karena siapa sih yang nggak bangga dan nggak mau jadi orang cerdas, sukses, ya aku pikir sih, dengan jalan kuliah aku bisa mencari kerja sesuai impianku. Masing-masing orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri.
Semuanya nggak salah, bahkan pak yasim ini membuktika pada kita, khususnya aku, bahwa ilmu itu sangatlah berharga, bahkan untuk meraih ilmu saja kita harus kuliah, ada yang harus mengeluarkan banyak biaya, ada yang beruntung bisa mendapatkan beasiswa dan susah payah hanya untuk mendapatkan ilmu dan gelar. Benar ilmu itu sangat mahal, bukan dari segi materi tetapi ilmu itu sendiri. Sangatlah berharga.
Makanya, kadang aku miris, masih ada orang sekolah tapi malas-malasan, ada juga orang sekolah tinggi tapi ilmunya tidak di amalkan dalam dirinya. Sekedar gengsi saja.
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mencari ilmu dan mengamalkannya. Kehidupan ini. Ya, inilah universitas kita sbenarnya, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari setiap perjalanan hidup kita, bagi orang yang mau berpikir lho yaa..
Bagi orang yang nggak mau berpikir ya mereka biasa saja menjalani hidup. Makanya Allah memberikan akal kepada manusia untuk berpikir, dengan berpikir baik dan mampu mengolah pemikiran kita, kita menjadi orang yang bersyukur.