BAB I
PENDAHULUAN
A. Analisis Situasi
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang dilaksanakan menurut Permen Diknas No 41 tahun 2007 butir II B disusun secara tematik dan terpadu. Keterpaduan tersebut dilihat dari berbagai aspek materi, aspek belajar dan keberagaman budaya. Dengan demikian, pembelajaran IPA terpadu dapat dilaksanakan di SMP/MTs. Saat ini, pendidikan yang dilaksanakan di sekolah pada umumnya sedang berproses pada keterintegrasian suatu bidang kajian. Sebelumnya IPA merupakan bidang ilmu yang terbagi menjadi fisika, biologi dan kimia, akan tetapi berdasarkan perkembangan yang ada saat ini pembelajaran IPA yang ada di SMP dirancang secara terpadu (Depdiknas, 2009:2).
Pembelajaran IPA yang dilaksanakan di MTs Negeri Ngemplak saat ini belum terintegrasi seperti yang telah tercantum dalam Permendiknas tersebut. Pembelajaran yang dilakukan dalam satu semester terdapat dua bidang IPA yaitu biologi dan fisika sehingga keterhubungan antara materi menjadi tidak jelas dan dalam memberikan informasi menjadi terbatas hanya pada satu bidang kajian saja. Apabila dilihat dari mata pelajaran IPA sebagai ilmu yang mempelajari objek dan persoalan di alam tentu saja tidak terbatas pada satu bidang kajian. Ada beberapa persoalan dan objek yang berhubungan antar bidang kajian dan tidak dapat dipisahkan, misalnya materi asam dan basa dapat diintegrasikan dengan materi pencemaran air sungai jika dilihat dari kondisi air. Kondisi air yang tercemar menjadi masalah yang kontekstual dan dapat dipecahkan. Salah satu alternatif solusinya adalah dengan melakukan pengolahan air yang terdapat pada materi pemisahan campuran. Keterkaitan antar materi yang tertera pada uraian di atas dapat diintegrasikan dalam pembelajaran IPA sebagai suatu masalah yang dapat dipecahkan melalui investigasi siswa.
Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan pengalaman mengajar selama KKN PPL di MTs Negeri Ngemplak tahun ajaran 2010/2011, bahwa situasi sekolah masih kurang mendukung baik dalam kegiatan pembelajaran, media belajar, dan penyampaian materi terhadap siswa. Informasi yang diperoleh dari guru IPA Biologi yang mengajar kelas VII, kelas yang potensi akademiknya tinggi pada mata pelajaran tersebut berada di kelas A MTs Negeri Ngemplak. Berdasarkan pengalaman mengajar yang pernah dilakukan selama KKN/PPL bahwa rata-rata kelas VII A adalah 60,9. Tingkat KKM siswa yang ditentukan di sekolah sebelumnya adalah 65, akan tetapi berdasarkan informasi tingkat KKM akan ditingkatkan menjadi 70. Materi pelajaran yang diajarkan adalah asam basa. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru menggunakan metode ceramah dan diskusi kelas. Metode tersebut digunakan agar siswa aktif memberikan pendapat terhadap masalah yang diberikan guru. Akan tetapi hanya beberapa siswa yang berpartisipasi dalam kelas.
Selama kegiatan pembelajaran siswa jarang diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki siswa. Proses pembelajaran yang berlangsung lebih menekankan pada hasil belajar saja tanpa diperoleh keterampilan ilmiah seperti keterampilan memecahkan masalah. Selain pembelajaran yang masih konvensional, guru jarang sekali memberikan permasalahan dan melakukan investigasi yang dapat meningkatkan keaktifan siswa serta keterampilan memecahkan masalah. Selama proses pembelajaran berlangsung guru hanya meminta siswa memahami isi materi dan mengerjakan soal yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Menurut informasi yang diperoleh dari guru IPA kelas VII diketahui bahwa guru belum pernah menggunakan model PBL dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Metode pembelajaran yang sering digunakan guru dalam proses belajar mengajar adalah metode ceramah, diskusi kelas, tanya jawab, pemberian tugas serta mengerjakan soal. Hal tersebut dilakukan karena sempitnya waktu yang diberikan untuk menyelesaikan materi yang begitu banyak. Selama satu minggu, jam mata pelajaran IPA kelas VII hanya 5 jam pelajaran.
Pelaksanaan metode ceramah di kelas dilakukan karena keterbatasan waktu dalam menyampaikan materi yang banyak. Metode ceramah menjadi metode yang tepat dalam menyampaikan informasi dan tidak menghabiskan banyak waktu. Metode ini dapat digunakan untuk memberi pengantar pada pelajaran atau aktivitas, dan dapat dikatakan berhasil jika bahasa yang disampaikan oleh guru dapat dipahami oleh siswa. Akan tetapi, apabila guru hanya menggunakan satu metode saja, maka dapat menghalangi respon belajar dari siswa, akibatnya pembelajaran menjadi kurang menarik dan membatasi daya ingat karena siswa hanya mendengarkan saja. Siswa menjadi tidak tertantang dan kurang aktif. Apabila ada variasi dalam penggunaan metode dan model pembelajaran, maka akan terjadi interaksi di dalam kelas, sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih menarik. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model PBL.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu diterapkan pembelajaran yang dapat menarik siswa untuk berpartisipasi aktif dan dapat meningkatkan keterampilan yang dimiliki oleh siswa salah satunya keterampilan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan IPA. Model pembelajaran berbasis masalah atau biasa dikenal dengan Problem Based Learning (PBL) dapat melatih siswa dan mengembangkan keterampilan memecahkan masalah yang berorientasi pada masalah autentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi. PBL berfungsi sebagai langkah untuk investigasi dan penyelidikan.
Sebelumnya penerapan metode yang dipilih oleh guru harus disesuaikan dengan tema yang akan dibelajarakan. Berdasarkan fakta yang telah diuraikan diatas maka dipilihlah suatu tema permasalahan pencemaran air sungai. Tema tersebut merupakan permasalahan yang dapat ditemukan pada lingkungan sekitar dan dapat dipecahkan. Permasalahan tersebut dapat dipadukan dari beberapa aspek materi baik fisika, kimia maupun biologi sehingga dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA terpadu di MTs N Ngemplak. Keaktifan siswa serta keterampilan siswa dalam memecahkan masalah akan terlihat dengan melakukan metode belajar diskusi kelas serta kegiatan investigasi yang terangkum dalam model PBL.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Kurang mendukungnya fasilitas yang diberikan sekolah baik dalam media pembelajaran serta penyampaian materi terhadap siswa.
2. Rata-rata hasil belajar siswa masih di bawah nilai KKM yang ditentukan oleh sekolah.
3. Selama kegiatan pembelajaran siswa jarang diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki siswa.
4. Proses pembelajaran yang berlangsung lebih menekankan pada hasil belajar saja tanpa diperoleh keterampilan ilmiah seperti keterampilan memecahkan masalah.
5. Guru belum pernah menggunakan model PBL dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
6. Guru hanya menggunakan satu metode saja, maka dapat menghalangi respon belajar dari siswa, akibatnya pembelajaran menjadi kurang menarik dan membatasi daya ingat karena siswa hanya mendengarkan saja. Siswa menjadi tidak tertantang dan kurang aktif.
7. Untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah, diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dengan melibatkan persoalan IPA yang kontekstual.
8. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah adalah menggunakan model PBL.
C. Pembatasan Masalah
1. Penerapan model PBL sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah
2. Penerapan PBL meliputi beberapa tahap yaitu mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data dengan menuliskan data hasil percobaan, mengumpulkan data dengan menyebutkan sumber dan dampak negatif, menganalisis data, memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya, merencanakan penerapan pemecahan masalah, melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan, dan menyimpulkan.
3. Penerapan model PBL untuk siswa kelas VII A MTs Negeri Ngemplak pada tema pencemaran air sungai yang meliputi pencemaran air sungai, penyebab dan dampak pencemaran air sungai, ciri-ciri air yang tercemar berdasarkan parameter kimia dan fisika, solusi yang dilakukan dalam mencegah terjadinya air sungai yang tercemar, serta macam-macam penjernihan air secara fisika, kimia dan biologi.
4. Parameter penelitian adalah keterampilan memecahkan masalah siswa pada aspek kognitif dan psikomotor.
D. Perumusan Masalah
1. Bagaimana keterlaksanaan model PBL dalam meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pada siswa kelas VII A MTs Negeri Ngemplak pada tema pencemaran air sungai?
2. Seberapa besar peningkatan keterampilan memecahkan masalah pada siswa kelas VII A MTs Negeri Ngemplak pada tema pencemaran air sungai setelah dilakukan pembelajaran dengan model PBL?
E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui keterlaksanaan model PBL dalam meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pada siswa kelas VII A MTs Negeri Ngemplak pada tema pencemaran air.
2. Mengetahui besarnya peningkatan keterampilan memecahkan masalah pada siswa kelas VII A MTs Negeri Ngemplak pada tema pencemaran air setelah dilakukan pembelajaran model PBL.
F. Manfaat Penelitian
1. Bagi guru
a. Menjadi bahan pertimbangan dalam memilih metode dan model pembelajaran yang lebih inovatif, menarik dan efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
b. Memberikan gambaran variasi metode dan model pembelajaran IPA.
2. Bagi siswa
a. Dapat memberikan suasana belajar yang lebih kondusif dan variatif sehingga siswa tidak monoton belajar dengan metode ceramah yang cenderung membosankan.
b. Melatih keterampilan siswa dalam memecahkan masalah terhadap suatu permasalahan yang dihadapi.
3. Bagi peneliti
a. Menjadi bahan rujukan untuk tindakan penelitian lebih lanjut dimasa yang akan datang
b. Sebagai referensi dalam mengembangkan penelitian baru yang relevan.
G. Definisi Operasional
1. Keterampilan Memecahkan Masalah
Pemecahan masalah merupakan salah satu model PBL dimana guru membantu siswa untuk belajar memecahkan masalah melalui pengalaman-pengalaman pembelajaran mengembangkan keterampilan psikomotor. Pemecahan masalah diawali dengan suatu masalah dimana siswa bertanggung jawab untuk memecahkan masalahnya dengan bantuan guru. Guru menerapkan metode pemecahan masalah yang dimulai dari mengidentifikasi masalah sampai mengevaluasi hasil dari pemecahan masalah (Jacobsen, Eggen & Kauchak, 2009: 249).
2. Problem Based Learning
PBL merupakan model pembelajaran yang menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada siswa, yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan. PBL dirancang untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah dan keterampilan intelektualnya (Arends, 2007:43).
3. Pencemaran Air Sungai
Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat atau komponen lainnya kedalam lingkungan perairan sehingga kualitas air terganggu. Air merupakan kebutuhan vital bagi makhluk hidup. Apabila daerah perairan tercemar maka kehidupan sekitarnya akan terganggu (Saktiyono, 2007:156).