Jum’at
18 Oktober 2013, menjadi kisah yang mengharukan bagi ku. Dua hari setelah
pertunanganku, Mbah Akung menghembuskan nafas terakhirnya. KH Sholeh, pendiri
pondok pesantren Al Hikam pulang lebih dulu. Keinginannya untuk meninggal di
hari jumat saat adzan sholat jumat terlaksana.
Sangat
jelas di depan mata kami semua, perlahan-lahan kami membimbing mengucap asma
Allah, para santri melantunkan surah yasin bersamaan, dan nafas itupun
terhenti. Seketika itu pula langit yang awalnya cerah, berubah mendung dan
menurunkan air hujan yang cukup deras. Meskipun kami telah siap dengan
kepergian beliau, tetapi rasanya belum sempat bercengkrama, belajar ilmu-ilmu
Allah. Dan Aku, meninggalkan sesal yang mendalam.
Aku
adalah cucu pertama, tapi aku tidak lama mempelajari apa yang beliau sampaikan
pada santri-santrinya. Aku juga jarang menemui beliau, terakhir dua hari saat
aku melangsungkan pertunangan. Beberapa hari sebelumnya pun aku sempat
menyuapinya dengan sate kambing yang sangat beliau suka.
Sepeninggal
beliau, aku baru merasakan kebaikannya. Cerita yang ku dengar dari para
muridnya. Tentang seorang guru yang luar biasa. Salah satu diantaranya tentang
kisah nyata seorang preman depok,sebut saja namanya om teguh.
Dulu,
om teguh jadi buronan polisi, preman
kota, lalu kabur ke desa sodaranya. Sodaranya menyuruhnya mondok di pondok Al
Hikam. Akhirnya datanglah dia ke rumah mbah. Di sana dia dijamu dengan baik,
bahkan mbah tak menyuruhnya ngaji seperti santri yang lainnya. Membiarkannya.
Kerjanya nyuri beras yang baru panen, dan sempat mau bacok-bacokan sama salah
satu santri. Tapi mbah menanggapi dengan tenang. Tak pernah memarahinya. Mbah
hanya berkata “apa kamu mau tetap seperti ini?sok, silahkan pikirkan” saat itulah,
sedikit demi sedikit mulai berubah, pada intinya, mbah adalah sosok guru yang
tegas, tak pernah menyakiti atau memaksa anak-anak keras seperti om teguh.
Mengajar dengan hati. Dan sekarang om teguh menjadi orang sukses, insyaallah
sebentar lagi umroh.
Kisah
lainnya tentang mang gugun, pria yatim piatu yang saat ini masih menjadi santri
di mbah, dulunya dia anak yang nakal, nggak pernah sholat dan ngaji, dan belum
mengenal huruf hijaiyah sama sekali.
Saat itu dia melihat temannya meninggal kecelakaan, sejak itu dia
berpikir kalau dia juga akan mati, tapi dia tak punya apa-apa. Akhirnya dia
pulang ke rumah saudaranya, dan ingin belajar agama. Dan bertemulah dengan mbah
akung. Mang gugun pun sama belajar banyak hal, saat ini dia memang belum lancer
mengaji, tapi dia sudah menemukan Allah dalam hatinya. Dia tak pernah bosan
mengunjungi makam mbah setiap dhuhur, membersihkan makamnya. Cinta seorang
murid terhadap gurunya.
Kini,
mbah tinggal cerita, tapi kebaikannya selalu dikenang. Pelajaran yang sangat
penting dan amanahnya yaitu jangan menyakiti orang sedikitpun, terutama dengan
kata-kata,jangan pernah mencari dunia, cari rahmat Allah, jaga istrinya, jangan
pernah meninggalkan sholat dan ngaji, dan jangan mengotori rumah atau halaman
orang dengan sampah.
Yang
menarik adalah mbah putri, mbah putri tak sedikitpun bosan mendoakannya. Bagiku
inilah kisah cinta yang sebenarnya. Kisah paling romantis diantara kisah romeo
dan juliete. Beberapa bulan sebelum meninggalnya mbah, aku dan bapak pernah mengajak mbah putri dan mbah
akung ke Tasik untuk berobat mbah putri, di situ aku lihat betapa sayangnya
mbah akung sama mbah putri, mbah yang aku kenal menakutkan ternyata hatinya
lembut. Dan cintanya pun terbalaskan, kini, setiap pagi dan sore mbah putri tak
pernah lelah dan bosan mengunjungi makamnya untuk mengaji dan berdoa. Sehari
dua juz al Quran dilahapnya. Setiap pagi, saat aku sibuk berolah raga, mbah
jalan kaki menuju makam mbah akung, luar biasanya beliau. Cinta mereka cinta
yang akan dipertemukan kembali di surganya Allah. Semoga.
