Kalau
aku melihat wajahnya, menatap fotonya, aku selalu ingin menangis, nggak tau
kenapa. Aku tak pernah peduli seperti apa dulu. Kata mbah dan bibi-bibiku, saat
usiaku masih 1 minggu aku sudah di bawa ke jawa. Aku memang lahir di tanah
sunda, singaparna. Jawa barat. Tetapi aku tumbuh hingga dewasa di jawa tengah,
walaupun bahasa kami tak jauh beda. Sejak usia 1 minggu aku tinggal bersama
mbah dan keluarga besar dari ayahku, kedua orag tuaku masih menyelesaikan
studynya di jawa barat. Jadi aku tidak minum ASI melainkan air susu biasa,.
Dulu aku sempat kecewa dan sedih, kok mamah nggak mau ngerawat aku, makanya aku
kurang dekat sama mamah. Tetapi sejak kuliah aku sudah mulai membuka diri, aku
sudah berani bercerita tentang sahabat dan orang-orang terdekat ke mamah. Suatu
saat aku pernah main ke rumah temanku, ia sangat akrab dan dekat sekali dengan
ibunya, aku jadi iri. Sebenarnya ibuku bukanlah orang yang jahat, atau galak
atau negatif. Tetapi aku tidak pernah
tau bagaimana mengungkapkan sayang aku. aku kurang dekat dengannya bukan
berarti aku nggak sayang atau hubunganku dengan beliau kurang harmonis, tidak
sama sekali.
Mamah
adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dulu beliau sempat menjadi guru MA
bersama bapakku, tetapi sejak kelahiran adikku, mamah memutuskan untuk menjadi
Ibu rumah tangga. Sejak kecil aku di asuh oleh pengasuh, makanya aku kurang
dekat dengan mamah, yang aku ingat hari-hari bersama beliau waktu kecil adalah
ketika belajar berhitung matematika kelas 2 SD. Waktu itu di sekolah guruku
memberi tugas pertambahan dan pengurangan. Nilaiku 90 dan salah di bagian
pengurangan, kata pak guru pekerjaan ini di suruh di perbaiki di rumah. Jadi
sepulang sekolah aku langsung minta di ajari mamah. Mamah mengajariku bagaimana
mengurangi bilangan juga membaca sampai akhirnya aku bisa.
Aku
mulai mengenal mamah dari cerita bibiku yan tidak lain adik dari bapak, juga
dari kegiatan sehari-harinya saat ini. Sejak bibi punya warung klontong, mamah
selalu membantunya di warung, mamah berangkat setiap pagi. Sebelumnya mamah
pernah berwira usaha membuat lontong isi dan di titip di warung, juga membuat
roti isi waktu SMA. Aku lihat betapa tekunnya mamah mengerjakan semua itu
sendiri. Aku dan adikku membantu dalam pemasaran, kami menitipkan jajanan ke
koperasi sekolah. Tetapi karena penghasilan yang sedikit akhirnya mamah
berhenti dan beralih pada pembuatan sale dan rengginang. Mamah mengerjakan itu
sendiri. Bapak membantu dalam pengemasan, alhamdulillah ini masih berjalan
sampai sekarang. Aku selalu kasihan dan nggak tega lihat mamah membuat makanan
itu sendiri, aku pernah bilang kenapa nggak minta di bantuin orang aja, punya
karyawan gitu. Tapi mamah bilang, pekerjaan ini masih bisa di kerjakan sendiri,
dan kalau punya karyawan mamah belum tentu bisa membayarnya banyak, karena
untung dari penjualan makanan ini hanya untuk menutup kekurangan dari kebutuhan
sehari-hari. Tetapi mamah terus menekuninya. Aku juga tak banyak membantu.
Sejak
bibi punya warung mamah semakin sibuk dan waktu istirahatnya berkurang, apalagi
sekarang hampir setiap hari ada kaian rutin di desa, mamah tak pernah absen
untuk mengikuti kajian. Kadang aku sering mengeluh karena mamah jadi jarang di
rumah dan jarang masak. Aku sempat protes. Aku tidak tau ini ternyata menyakiti
hati mamah. Maaf. Sejak itu mamah selalu berusaha menyenangkanku, kalau mau
masak, mamah selalu tanya kamu mau minta di masakin apa? Selalu begitu.
Ya
Allah...aku tak pernah melihat perjuangannya yang sangat berat. Ku mulai
mengerti kalau pekerjaan seorang mamah itu sanagt berat ketika 1 minggu di
tinggal mamah ke Tasik. Waktu itu ayahnya mamah meninggal dunia jadi mamah
harus di sana 1 minggu. Sejak itu aku yang memegang pekerjaan rumah tangga,
mengurusi bapak dan adikku. Mencuci piring, memikirkan akan masak apa hari ini,
mencuci baju dan menjemurnya sebelum aku berangkat kerja sehingga mengharuskan
aku bangun lebih pagi dari biasanya, menyapu rumah, menyetrika baju bapak.
Biasanya aku hanya menyetrika bauku sendiri. Sejak itu aku tau, ternyata jadi
mamah capek banget, berat, melelahkan bahkan lebih berat dari pada pekerjaan
aku di sekolah. Padahal mamah nggak hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga,
beliau juga harus mengikuti kajian rutin di desa, 3 minggu sekali bantu bibi di warung
klontong, kalau sore kadang mengasuh caesar. tetapi mamah tak pernah sama
sekali mengeluh atau merasa capek. Bahkan
beliau tak pernah menyuruh aku atau adikku bekerja. Makanya keterampilanku
dalam pekerjaan rumah tangga kurang, tetapi pengalaman menjadi anak kost
membuatku sedikit tau dan sekarang aku sudah bisa membantunya, walaupun tak
sering.
Pernah,
waktu itu hari minggu, pagi-pagi seperti biasa mamah menyiapkan sarapan,
sekarang aku sudah mulai bantu sedikit-sedikit di dapur seperti mencuci piring
atau kalau lagi ingin masak aku yang menawarkan diri untuk masak, mamah seneng
banget kalo aku masak. Mungkin karena aku jarang bantuin, hehe.. . hari itu
mamah ada acara kajian di desa sampai siang. Karena hari itu hari minggu aku
menggunakan waktu itu untuk bersantai-santai, pokoknya tidak ada yang boleh
mengganggu istirahatku. Hp aku sillent. Siangnya mamah pulang, aku masih asyik
tidur, alhamdulillah mamah bawa makanan, jadi nggak perlu masak untuk makan
siang, ternyata sejak aku tidur tadi bapaknya caesar telpon aku, aku tau
maksudnyamenelpon yaitu untuk mengasuh caesar, tetapi saat ini aku memang
sedang tak ingin di ganggu. Ternyata pamanku malah nyuruh mamah. Ya Allah..tega
banget sih, nyuruh mamah. Padahal mamah kan baru dateng kajian. Tetapi mamah
nggak menolak atau mengeluh, mamah langsung ke rumah bibi dan membawa caesar ke
rumahku. Tak tega aku sama mamah, akhirnya aku yang menjaga caesar dan
mengajaknya bermain. Sore harinya mamah yang gantian mandiin caesar dan pulang
jam 5. Ya Allah..aku tau pasti mamah capek, bayangkan dalam sehari beliau tak
sedikitpun istirahat kecuali makan siang dan sholat. Tetapi mamah tak pernah
mengeluh, beliau sangat sabar, tidak pernah marah dan membentak. Seumur hidupku
aku tak pernah sedikitpun mendapat bentakan. Pernah sih sekali itu juga
gara-gara aku susah di bangunkan pagi, padahal udah lewat waktu subuh dan hari
itu aku harus berangkat sekolah, jadi buatku itu memang wajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar