Minggu, 17 Februari 2013

yang negatif tak selamanya salah

sebenarnya catatan ini sudah lama rtersimpan dalam diary, dan baru sekarang di aplot ke blog. kisah sehari-hari tentang aktivitasku di sekolah kecil, sederhana, tapi memberikan banyak pelajaran dan pengalaman untukku. salah satunya tentang seorang siswa bernama akmal dan ikbal.
kedua anak tersebut berbeda kelas, akmal kelas 8 saat ini, dan ikbal kelas 9. pertama kali aku mengenal mereka, yaitu 2011 lalu, tapi tepatnya mulai mengenal mereka adalah 2012, saat aku ditugaskan menjadi guru ganti. dan sungguh luar biasa menyebalkannya mengajar anak-anak yang dimata aku semua negatif, dan yang paling menonjol adalah mereka berdua.
pertama aku ingin bercerita akmal dulu, aku tak ingin menyerah dengan kodisi di sekolah terutama tentang anak-anak. masa iya aku susah payah sekolah 4 tahun tapi tak bisa menangani anak seperti mereka. satu hal yang membuat aku yakin adalah bahwa Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik makhluk, mereka memiliki kelebihan, tidak ada yang bisa disebut sampah. walaupun saat ini aku belum mengetahui kelebihannya apa tapi pasti ada, dan itu terbukti, ketika tahun ajaran baru, ketika semua siswa laki-laki sudah pulang, akmal masih sibuk bersama teman-teman putri dan wali kelasnya membersihkan kelas, entahlah terpaksa atau tidak, tapi ini sangat istimewa dimataku. stu hal yang aku dapatkan, mereka hanya butuh pendekatan, perhatian dan bukan omelan atau hukuman keras. aku pernah bertanya pada guru yang rumahnya tak jauh dengannya, aku bertanya tentang keluarganya, dan miris begitu tau seperti apa keluarganya, dari keluarga apa dia berasal. dan dia hanyalah korban. akmal terlahir seperti kertas putih tapi harus terisi oleh goresan tinta yang tak bermakna. membuatnya seperti saat ini, dikelas badung, tak pernah mendengarkan pelajaran, bahkan ketika aku minta mengerjakan soal termudah berhitung dia tidak bisa.
ikbal. saat ini dia kelas 9 dan sebentar lagi menghadapi UN. sama dengan akmal, ikbal anak yang paling ramai dikelas, suara cemprengnya khas. awalnya aku sebel, tapi mendengan bahwa ternyata setiap pulang sekolah ikbal membantu kedua orang tuanya mencari sampah yang masih bisa di gunakan. yap. pemulung smpah, tapi dimataku saat ini dia bukan sampah. ikbal memang belum lancar membaca, tetapi semangatnya membantu, ini yang luar biasa.
pelajaran yang aku dapatkan adalah jangan pernah melihat seseorang dari luar saja, dan seiap manusia memiliki kelebihan masing-masing, satu keinginan yang sejak awal aku tanamkan, aku ingin memberantas kemalasan dan membangkitkan semangat bermimpi dulu, semangat meraih cita-cita, lalu semangat belajar. ya itu dulu. pintar itu kan mengikuti nanti ketika kita memiliki semangat belajar.
untuk murid-muridku...kalian adalah guruku dan aku belajar dari kalian, belajar untuk menjadi guru yang mendidik, guru yang sesungguhnya:)

2 komentar:

  1. salam..
    tulisan warna pink/merah itu terlalu moronyoy mbak...gak bikin betah yg berkunjung..
    sepertinya akan lebih keren kalo backgroundnya pink dan tulisannya ijo
    coba deh.. ^_^
    semangat!

    BalasHapus