Siang ini matahari sedang tak bersahabat, panaaasss... membuat suasana hati tambah nggak karuan dan inginnya di dalam rumah aja, tetapi siang ini aku harus pergi ke acara hajatan kepala sekolah. Jadi dari sekolah nggak bisa langsung pulang. Tepat pukul 10.00 kami semua berangkat menuju desa Pengarasan tempat di mana aku dulu bertugas mengawasi ujian, tapi bedanya sekarang ke rumah kepala sekolah bukan ke sekolah yang dulu. Setiadaknya aku sudah paham betul medan perjalanan menuju ke sana, luar biasa sulitnya. Jalannya yang terjal di tambah aspal yang sudah tak wajar membuat aku nggak berani mengendarai motor sendiri, dulu juga waktu tugas aku minta diantar. Untungnya pamanku juga menjadi tamu undangan, jadi aku bisa nebeng mamang, biasa aku memanggilnya. Hehehe..lumayan kan, nggak capek, tapi aku juga nggak berani kalau harus melewati jalan super rusak itu. Makasih ya mamang.
Selama perjalanan berangkat sampai pulang lagi memang tidak menyenangkan, selain harus menahan panas teriknya matahari, di tambah debu dari jalanan karena hilir mudiknya kendaraan. Tetapi semua ini dapat sedikit terobati. Sepanjang perjalanan aku bisa menikmati karya Allah SWT, melihat selintas pemandangan yang indah. Pohon pinus yang berjejer sepanjang jalan, hamparan padi yang masih menghijau. Kata pamanku di sini hasil panennya bagus dan masih subur.
Sepanjang perjalanan pulang aku dan paman banyak bercerita ngalor ngidul nggak jels, sampai akhirnya menemukan cerita yang membuatku takjub. Dari yang awalnya cerita tentang pekerjaan akhirnya paman menceritakan kisah seorang teman kerjanya. Namanya bapak Yasim. Yang unik dari bapak Yasim adalah pemikirannya tentang sebuah ilmu. Berbeda dengan orang pada umumnya.
“tau nggak is, mungkin dia orang satu-satunya yangmasih memegang prinsip sekolah untuk mencari ilmu, bukan ijazah” begitu pendapat paman.
“masa sih mang?” tanya ku.
“iya, dia kuliah 2 kali, tetapi khusus untuk ilmu yang ingin ia pelajari, kalau mata kuliah yang dia nggak suka dia nggak ambil, dia kuliah sampai lulus, tapi ijazahnya nggak pernah dia ambil”
“kok gitu mang? Ada ya orang seperti dia”
“makanya itu, pemikirannya masih murni dan tulus, dia pernah bilang, aku sekolah tinggi niatnya untuk medapatkan ilmunya dan akan aku amalkan. Bukan buat cari gelar atau ijazah, bukan untuk cari kerja, buat aku rejeki itu bisa di cari asalkan halal.”
Hah...ada rasa kagum dengan pemikiran beliau, tapi unik, pemikirannya jaman kuna banget, tapi takjub aja masih ada orang seperti itu.
“trus mang, kok dia bisa jadi guru?”
“dia jadi guru swasta dan tidak memiliki gelar, tetapi memang benar, dia sangat pintar dalam ilmu falaq, kalau di sekolah ia mengajar, kalau nggak ada kegiatan dia sering mengisi pengajian di pondok pesantren, apalagi kalau bulan ramadhan, dia aktif mengisi kajian.”
“trus kalo ada kenaikan pangkat atau tes CPNS gimana?”
“dia nggak pernah mikirin itu, prinsip dia hanya mengamalkan ilmu yang dia miliki, kalau teman-teman kerjanya sibuk mengurusi kenaikan pangkat/ sertifikasi, dia cuek aja, nggak peduli. Itu sudah menjadi prinsipnya. Banyak sih orang yang nggak setuju dengan pemikirannya. Tapi ya seperti itulah orangnya”
Subhanalloh...di jaman modern seperti sekarang, masih ada orang seperti itu, pemikiran yang orang jaman nabi banget, punya hati yang tulus mencari ilmu untuk diamalkan, bukan mencari ijazah, gelar. Bahkan sekarang banyak orang sekolah tinggi-tinggi dengan biaya mahal, tapi beberapa dari mereka hanya sekedar mencari gelar untuk kenaikan pangkat atau sekedar menaikkan gengsi. Aku sendiri tujuan kuliah selain mencari ilmu tujuan akhirnya ya untuk nyari kerja.
“barang siapa yang keluar rumah untuk belajar satu bab dari ilmu pengetahuan, maka ia telah berjalan fisabilillah samapi ia kembali ke rumahnya” HR Tirmidzi dari Anas Ra.
“sungguh, orang-orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan, merekalah makhluk sebaik-baiknya” QS Al Bayyinah (bukti nyata) 98:7.
Hadist di atas mengingatkan ku pada sesuatu, kalau Allah tidak pernah melihat kedudukan manusia dari pangkatnya atau kekayaannya. Tetapi akhlaknya. Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat.
Kadang kita ingin sekolah setinggi-tingginya, mungkin ada yang berpikir karena ingin mencari gelar, sampai namanya panjang sekali karena kebanyakan gelar, hihi, aku juga kadang takjub melihat orang bergelar banyak sampai prof. Dalam benakku berkata orang ini otaknya seperti apa ya? Genius banget, nggak pusing apa yah?
Ada juga yang sekedar kuliah karena di tuntut oleh perkembangan jaman, ya macam aku ini, ada tekad dalam hati untuk mencari ilmu karena siapa sih yang nggak bangga dan nggak mau jadi orang cerdas, sukses, ya aku pikir sih, dengan jalan kuliah aku bisa mencari kerja sesuai impianku. Masing-masing orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri.
Semuanya nggak salah, bahkan pak yasim ini membuktika pada kita, khususnya aku, bahwa ilmu itu sangatlah berharga, bahkan untuk meraih ilmu saja kita harus kuliah, ada yang harus mengeluarkan banyak biaya, ada yang beruntung bisa mendapatkan beasiswa dan susah payah hanya untuk mendapatkan ilmu dan gelar. Benar ilmu itu sangat mahal, bukan dari segi materi tetapi ilmu itu sendiri. Sangatlah berharga.
Makanya, kadang aku miris, masih ada orang sekolah tapi malas-malasan, ada juga orang sekolah tinggi tapi ilmunya tidak di amalkan dalam dirinya. Sekedar gengsi saja.
Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mencari ilmu dan mengamalkannya. Kehidupan ini. Ya, inilah universitas kita sbenarnya, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari setiap perjalanan hidup kita, bagi orang yang mau berpikir lho yaa..
Bagi orang yang nggak mau berpikir ya mereka biasa saja menjalani hidup. Makanya Allah memberikan akal kepada manusia untuk berpikir, dengan berpikir baik dan mampu mengolah pemikiran kita, kita menjadi orang yang bersyukur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar